Today, there will be another meeting, and i think it will last longer than yesterday.
I'm starting to get bored with this. I can't seem to find my role and existance here.........
I want this all gets over soon.............
Tuesday, 25 September 2007
what a me.....
When i'm feeling successfully get out of his shadow,
He comes again.............
and there is a slight memory that i still remember,
now i feel that i failed.................
I'm just afraid that everything is repeating again,
I don't wanna feel another brokenheart....
He comes again.............
and there is a slight memory that i still remember,
now i feel that i failed.................
I'm just afraid that everything is repeating again,
I don't wanna feel another brokenheart....
Thursday, 20 September 2007
Don't u ever think about that
No matter how hard u try, u're not gonna get me.
Don't u ever think about that.
All of what u do, will be just in vain,
'cause i'll be just letting it go.
A guy is starting to make me uncomfortable......:(
He's like stalking at me, watching in everything i do......
and i'm starting to realize what kind of guy he is.....
No...................
I said to my self......................
I don't wanna fall for a guy like that, no matter how hard he tries to get near to me.......
No.........................
Stay awaaaaaaaaaaaaaaay...........................................
Don't u ever think about that.
All of what u do, will be just in vain,
'cause i'll be just letting it go.
A guy is starting to make me uncomfortable......:(
He's like stalking at me, watching in everything i do......
and i'm starting to realize what kind of guy he is.....
No...................
I said to my self......................
I don't wanna fall for a guy like that, no matter how hard he tries to get near to me.......
No.........................
Stay awaaaaaaaaaaaaaaay...........................................
Thursday, 6 September 2007
Gelar dan Penghargaan dari Keraton
Saya baca bbrp koran edisi weekend kemarin yg memberitakan bahwa beberapa tokoh nasional mendapatkan penghargaan dan gelar kebangsawanan dari Keraton Kasuhunan Surakarta. Berita tersebut membuat saya berpikir dan merenungi apakah makna dari gelar dan penghargaan tersebut saat ini.
Sedikit mereview bahwa gelar dari keraton memiliki tingkatan. Berdasarkan cerita dari Ibu BRAy Mooryati Soedibyo, sy membuat sedikit catatan ttg urutannya. Berikut urutan dari yg terendah (untuk pria):
Kanjeng Raden Tumenggung (KRT)
Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT)
Kanjeng Raden haryo (KRH)
Kanjeng Pangeran (KP)
a. Kanjeng Pangeran Panji (KPP)
b. Kanjeng Pangeran Aryo (KPA)
c. Kanjeng Pangeran haryo (KPH)
Gonjang-ganjing di Keraton Surakarta saat ini masih berlangsung, di mana ada 2 orang keturunan Raja Paku Buwono (PB) XII yg telah wafat, memperebutkan tahta kekuasaan utk menjadi PB XIII. Kedua keturunan PB XII tersebut adalah KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan. Keduanya merasa dirinyalah yg berhak menyandang gelar Raja Surakarta PB XIII. KGPH Tedjowulan menjadi PB XIII berdasarkan versi dari lembaga bentukan PB XII yg mengeluarkan Surat keputusan (SK) yg ditandatangani pejabat tinggi tiga lembaga kekeratonan. Isi dari surat wasiat itu adalah menunjuk KGPH Tedjowulan sbg penerus tahta.
Saudara sekandung KGPH Hangbehi dan kerabatnya menentang keputusan itu. Mereka menganggap Hangbehi lah yg berhak atas tahta kerajaan dan mengaku memiliki wasiat PB XII soal penunjukan penerus tahta utk Hangabehi. Maka mereka jg melantik Hangabehi menjadi raja.
Jadi skrg ini Kerajaan Surakarta punya 2 raja dengan pengikut masing2.
Kembali ke pemberian penghargaan dan gelar tadi, yang mengadakan acara tsb adalah versi Raja Tedjowulan. Sejumlah tokoh nasional, politikus, menteri, pengusaha dan artis diundang untuk menerima gelar ini. Di antaranya Sutiyoso dan I Putu Ari Suta yg memperoleh gelar KPA, mantan Puteri Indonesia 2005 dan 2006, Artika Sari Dewi dan Agni Pratistha menerima gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT). Selain itu Wardiman Djojonegoro dianugerahi gelar Kanjeng Pangeran, sedangkan Ferdi Hasan menjadi bergelar KRT. Di samping itu, Akbar Tandjung, Ari Suta Notonegoro, Poppy Darsono dan Sri Edi Swasono mendapatkan penghargaan Sri Kabadyo atas segala usahanya mempertahankan tradisi kebudayaan keraton.
Ada sejumlah media yg menyebutkan bahwa sebenarnya ada bbrp menteri dan tokoh lain yg semula akan dianugerahkan gelar juga, namun ketika hari H (Minggu, 2 September), mereka tidak datang. Di antara tokoh yg tidak datang ada mantan Ketua BIN AM. Hendropriyono, Gubernur Terpilih DKI Jkt, Fauzi Bowo, Jero Wacik, Erman Suparno, Joko Kirmanto dan Ferdi Hasan. Mereka memiliki alasan masing2 mengapa tidak datang ke undangan kerajaan tsb.
Yg mengganjal di hati saya adalah pertanyaan ”what’s next?”
Apa yg akan terjadi setelah mereka mendapat gelar dan penghargaan tsb?? Apakah mereka menjadi sakti mandraguna yg ga mempan ditembak or whatever, menjadi super kaya krn memiliki jatah kekayaan keraton, naik pangkat dan jabatan, lebih dihormati dan dijunjung tinggi???
Saya rasa jawabannya hampir pasti tidak.....
Sepulang mereka ke rumah masing2, yg gubernur tetap jd gubernur (ga jadi pangeran gubernur), yg artis tetap jd artis (ga jadi ratu artis), yg politikus tetap jd politikus. Dan kalo mereka melakukan kesalahan di muka hukum (KKN, membunuh, mencuri dll) mereka tetap akan dihukum dan masyarakat pun tetap akan membenci mereka. Mereka jg msh berdosa kalo melakukan larangan Tuhan. Bagaimana pula jika Raja yg memberikan gelar tsb ternyata bukan Raja yg sah, gelar itu akan tidak berarti dan bermakna bahkan di kalangan kerajaan yg sebenarnya.
(Ups, sy bukan pendukung Tejowulan atau Hangabehi loh....sy berpikir dlm koridor yg netral)
Ya memang sih segala gelar itu sebagai tanda penghormatan semata. Tp kl rajanya ga jelas siapa, kan ketahuan bahwa urusan intern di dlm kerajaan secara keseluruhan sedang ada masalah, lah kok malah sempat2nya memberikan gelar2 kepada orang lain.
Tapi, bagaimana pun juga, semoga mereka yg sudah menerima gelar dan penghargaan tersebut dpt menjadi lbh baik. Yang pejabat dan politikus jd bener2 bersih dan malu untuk melakukan hal2 negatif, yang artis jg jd artis yg lebih baik, ga kena gosip2 miring, lurus or keriting:P, menghibur masyarakat dgn cara yg lebih bagus lg, dlsb.
Kalo saya sih, misalkan akan dianugerahi gelar dgn keadaan spt ini (tidak jelas siapa sesungguhnya Raja di kerajaan ini), sy akan menolak dgn alasan belum siap atau apa pun yg kira2 masuk akal dan bisa diterima.
(Wakakaka...boleh dunk berandai2...., lagipula siapa juga yg bakal ngasih gw gelar, darah gw sampe tetes terakhir jg merah, bukan biru hihihi.... gelar Sarjana Pertanian aja jarang gw pasang di CV).
So, dengan analisis sebatas kemampuan sy, secara tidak sengaja sy mendukung para tokoh yg berani utk tidak dtg menerima gelar tersebut.
Sy rasa mereka yg tdk dtg itu mengerti keadaan yg sebenarnya (well, maybe some of them just really can’t make it on that day). Dan mereka akan menerima gelar setelah jelas siapa Raja yg benar2 sah menjabat sbg Raja PB XIII.
**************Ceileh, tumben gw mau nulis ttg hal-hal ky gini*************
Sedikit mereview bahwa gelar dari keraton memiliki tingkatan. Berdasarkan cerita dari Ibu BRAy Mooryati Soedibyo, sy membuat sedikit catatan ttg urutannya. Berikut urutan dari yg terendah (untuk pria):
Kanjeng Raden Tumenggung (KRT)
Kanjeng Raden Haryo Tumenggung (KRHT)
Kanjeng Raden haryo (KRH)
Kanjeng Pangeran (KP)
a. Kanjeng Pangeran Panji (KPP)
b. Kanjeng Pangeran Aryo (KPA)
c. Kanjeng Pangeran haryo (KPH)
Gonjang-ganjing di Keraton Surakarta saat ini masih berlangsung, di mana ada 2 orang keturunan Raja Paku Buwono (PB) XII yg telah wafat, memperebutkan tahta kekuasaan utk menjadi PB XIII. Kedua keturunan PB XII tersebut adalah KGPH Hangabehi dan KGPH Tedjowulan. Keduanya merasa dirinyalah yg berhak menyandang gelar Raja Surakarta PB XIII. KGPH Tedjowulan menjadi PB XIII berdasarkan versi dari lembaga bentukan PB XII yg mengeluarkan Surat keputusan (SK) yg ditandatangani pejabat tinggi tiga lembaga kekeratonan. Isi dari surat wasiat itu adalah menunjuk KGPH Tedjowulan sbg penerus tahta.
Saudara sekandung KGPH Hangbehi dan kerabatnya menentang keputusan itu. Mereka menganggap Hangbehi lah yg berhak atas tahta kerajaan dan mengaku memiliki wasiat PB XII soal penunjukan penerus tahta utk Hangabehi. Maka mereka jg melantik Hangabehi menjadi raja.
Jadi skrg ini Kerajaan Surakarta punya 2 raja dengan pengikut masing2.
Kembali ke pemberian penghargaan dan gelar tadi, yang mengadakan acara tsb adalah versi Raja Tedjowulan. Sejumlah tokoh nasional, politikus, menteri, pengusaha dan artis diundang untuk menerima gelar ini. Di antaranya Sutiyoso dan I Putu Ari Suta yg memperoleh gelar KPA, mantan Puteri Indonesia 2005 dan 2006, Artika Sari Dewi dan Agni Pratistha menerima gelar Kanjeng Mas Ayu Tumenggung (KMAT). Selain itu Wardiman Djojonegoro dianugerahi gelar Kanjeng Pangeran, sedangkan Ferdi Hasan menjadi bergelar KRT. Di samping itu, Akbar Tandjung, Ari Suta Notonegoro, Poppy Darsono dan Sri Edi Swasono mendapatkan penghargaan Sri Kabadyo atas segala usahanya mempertahankan tradisi kebudayaan keraton.
Ada sejumlah media yg menyebutkan bahwa sebenarnya ada bbrp menteri dan tokoh lain yg semula akan dianugerahkan gelar juga, namun ketika hari H (Minggu, 2 September), mereka tidak datang. Di antara tokoh yg tidak datang ada mantan Ketua BIN AM. Hendropriyono, Gubernur Terpilih DKI Jkt, Fauzi Bowo, Jero Wacik, Erman Suparno, Joko Kirmanto dan Ferdi Hasan. Mereka memiliki alasan masing2 mengapa tidak datang ke undangan kerajaan tsb.
Yg mengganjal di hati saya adalah pertanyaan ”what’s next?”
Apa yg akan terjadi setelah mereka mendapat gelar dan penghargaan tsb?? Apakah mereka menjadi sakti mandraguna yg ga mempan ditembak or whatever, menjadi super kaya krn memiliki jatah kekayaan keraton, naik pangkat dan jabatan, lebih dihormati dan dijunjung tinggi???
Saya rasa jawabannya hampir pasti tidak.....
Sepulang mereka ke rumah masing2, yg gubernur tetap jd gubernur (ga jadi pangeran gubernur), yg artis tetap jd artis (ga jadi ratu artis), yg politikus tetap jd politikus. Dan kalo mereka melakukan kesalahan di muka hukum (KKN, membunuh, mencuri dll) mereka tetap akan dihukum dan masyarakat pun tetap akan membenci mereka. Mereka jg msh berdosa kalo melakukan larangan Tuhan. Bagaimana pula jika Raja yg memberikan gelar tsb ternyata bukan Raja yg sah, gelar itu akan tidak berarti dan bermakna bahkan di kalangan kerajaan yg sebenarnya.
(Ups, sy bukan pendukung Tejowulan atau Hangabehi loh....sy berpikir dlm koridor yg netral)
Ya memang sih segala gelar itu sebagai tanda penghormatan semata. Tp kl rajanya ga jelas siapa, kan ketahuan bahwa urusan intern di dlm kerajaan secara keseluruhan sedang ada masalah, lah kok malah sempat2nya memberikan gelar2 kepada orang lain.
Tapi, bagaimana pun juga, semoga mereka yg sudah menerima gelar dan penghargaan tersebut dpt menjadi lbh baik. Yang pejabat dan politikus jd bener2 bersih dan malu untuk melakukan hal2 negatif, yang artis jg jd artis yg lebih baik, ga kena gosip2 miring, lurus or keriting:P, menghibur masyarakat dgn cara yg lebih bagus lg, dlsb.
Kalo saya sih, misalkan akan dianugerahi gelar dgn keadaan spt ini (tidak jelas siapa sesungguhnya Raja di kerajaan ini), sy akan menolak dgn alasan belum siap atau apa pun yg kira2 masuk akal dan bisa diterima.
(Wakakaka...boleh dunk berandai2...., lagipula siapa juga yg bakal ngasih gw gelar, darah gw sampe tetes terakhir jg merah, bukan biru hihihi.... gelar Sarjana Pertanian aja jarang gw pasang di CV).
So, dengan analisis sebatas kemampuan sy, secara tidak sengaja sy mendukung para tokoh yg berani utk tidak dtg menerima gelar tersebut.
Sy rasa mereka yg tdk dtg itu mengerti keadaan yg sebenarnya (well, maybe some of them just really can’t make it on that day). Dan mereka akan menerima gelar setelah jelas siapa Raja yg benar2 sah menjabat sbg Raja PB XIII.
**************Ceileh, tumben gw mau nulis ttg hal-hal ky gini*************
Subscribe to:
Comments (Atom)
