Thursday, 21 June 2007

Fenomena Motor di Jakarta


Dalam dua minggu belakangan, saya mendapatkan beraneka macam cerita yang melibatkan pengendara motor yang sekarang ini sangat banyak jumlahnya. Mulai dari kecelakaan, diserempet, sepinya pengguna transportasi umum, sampai ditabrak kaca spionnya oleh pengendara motor yang melaju kencang.

Saya secara tidak sengaja, beberapa kali membaca iklan di depan dealer sepeda motor yang berbunyi: “ DP Rp. 500.000, Bisa Bawa Pulang Motor”. Mungkin itulah salah satu penyebab membengkaknya pengguna motor sekarang. Dengan uang muka Rp. 500.000, sudah bisa punya motor, dengan bayar cicilan tiap bulannya.

Selain alasan ekonomi, banyak orang lebih memilih berkendara motor daripada kendaraan lainnya dengan alasan efektifitas waktu. Dengan menyalip dan menyelip di antara kendaraan lain itu lah mereka bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan. Apalagi bagi penduduk yang bekerja di Jakarta, namun bertemat tinggal di daerah pinggiran Jakarta atau seputar Bodetabek, pada jam-jam sibuk bermotor akan lebih cepat daripada naik kendaraan umum atau mobil.

Memang sekarang ini, pengendara motor terlihat menyemut di mana-mana. Kadang-kadang saya sendiri sampai takut untuk menyeberang jalan karena kebanyakan mereka selalu mengendarainya dengan kecepatan yang tidak sewajarnya. Selain itu, kelihaian mereka menyalip dan menyelip di antara kendaraan lain pun luar biasa, namun cenderung membuat kita merasa tidak aman. Sering saya menggelengkan kepala sambil menutup telinga, melihat pengendara motor yang berani mengklakson dengan keras bus dan truk untuk disalipnya, kadang-kadang sampai hampir bersenggolan dengan kendaraan yang jauh lebih besar tersebut. Mereka seolah tidak takut untuk menerima resiko yang akan terjadi jika kendaraan yang akan disalipnya itu tidak mau mengalah.


Jum’at, 15 Juni, 2007, saya melewati Jln. Dewi Sartika ke arah Otista jam 8.00 pagi. Ketika lampu merah di persimpangan Jambul, saya melihat deretan pengendara motor yang sampai menguasai setengah jalan raya tersebut, sampai ke ruas jalan dari arah Condet. Benar-benar pemandangan yang membuat geleng kepala. Sayangnya, saya tidak mendapatkan kesempatan untuk mengambil gambarnya, karena saya tidak berani mengeluarkan handphone yang akan saya pakai memotret di tempat keramaian seperti itu.

Ibu saya pernah menjadi korban tabrak motor. Suatu ketika Ibu sedang berkendara motor bersama adik saya yang masih duduk di kelas V SD. Memang Ibu saya itu, sangat berhati-hati (jika tidak ingin dikatakan lambat) dalam mengendarai motor. Tiba-tiba ada motor melaju kencang dari belakang yang akan menyalip, pembonceng motor itu membawa helm yang tidak dipakai hanya di pegangnya. Entah bagaimana helm itu tersangkut di motor Ibu saya mengakibatkan motor Ibu saya berhenti mendadak, kemudian Ibu dan adik saya jatuh terjungkal beberapa meter dari motornya. Ibu luka-luka di kaki dan tangannya, tapi Alhamdulillah tidak terlalu serius, sedangkan adik saya sangat mengherankan baik-baik saja. Pengendara dan pembonceng motor itu adalah siswa SMU. Mereka cukup bertanggung jawab dengan memberikan alamat rumahnya, jika Ibu saya akan minta pertanggungjawaban. Tetapi Ibu tidak melakukannya.

Prof. Dr. Iberamsyah, seorang Guru besar Universitas Indonesia, pada satu kesempatan pernah bercerita kepada saya. Suatu hari ketika beliau berkendara mobil bersama anaknya, tiba-tiba dari belakang ada pengendara motor yang melaju kencang, kemudian menabrak kaca spionnya hingga pecah. Hebatnya, pengendara motor itu hanya mungkin merasa kaget dan shocked, tidak terjatuh, sedikit melihat ke arah kaca spion yang ditabraknya, kemudian langsung tancap gas lagi dengan cepat. Melihat kejadian itu, Pak Prof. Iberamsyah berkomentar,”Kok bisa ya dia tidak jatuh, tapi malah langsung ngebut lagi begitu”. Beliau bersyukur bahwa pengendara motor itu tidak terjatuh. Karena jika sampai terjatuh dan diperkarakan, biasanya pengendara mobillah yang disalahkan padahal jelas-jelas kesalahan pengendara motor. Prof. Iberamsyah memang seorang yang baik hati sehingga beliau tidak emosi dan hanya mengatakan “Biarlah saya harus mengganti kaca spion mobil saya”.

Pada kesempatan lain ketika saya naik Mikrolet, si pengemudi mengeluhkan kendaraan bermotor juga. Ia mengatakan, setelah harga motor murah, penumpang kendaraan umumnya menjadi sepi tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, keagresifan mereka juga bukan main. Sering ketika ia berusaha menepi ke kiri untuk menurunkan penumpang, dari belakang seorang pengendara motor mengklakson keras-keras dan menyelip dari sebelah kiri untuk mendahului Mikroletnya. Biasanya dia langsung mengeluarkan kata-kata kasar dan balas mengklakson dengan keras pula.

Suatu hari ketika saya menumpang mobil Pringgo, seorang teman, dia bercerita sempat merasa dongkol sekaligus heran kepada pengendara motor. Di kemacetan, dia merasa jarak antara bumper depan mobilnya sudah cukup dekat dengan bumper belakang mobil di depannya, tapi ternyata masih ada juga motor yang bisa menyelip di antaranya dan melaju dengan bangga di sela-sela kemacetan itu. Wah, sabar sabar.

Beberapa kejadian di atas dapat menjadi cerminan pengendara motor di Jakarta ini. Betapa tidak teraturnya berkendara, seolah jalan menjadi miliknya sendiri. Kalo kata anak muda sekarang, memikirkannya membuat “cape deeh...”

Sesungguhnya keadaan lalu lintas itu bisa menjadi cerminan keadaan bangsa. Kita seharusnya malu jika melakukan hal “sradag srudug”, salip kanan kiri, kebut-kebutan tanpa perhitungan di jalan raya. Jalan raya adalah fasilitas untuk umum, maka sudah selayaknya kita menghargai sesama pengguna.

Memang di Jakarta belum ada jalar khusus motor seperti di Makassar, oleh sebab itu saya menghimbau kepada para pengendara motor sebaiknya mereka lebih berhati-hati dan lebih mengindahkan peraturan dan keadaan lalu-lintas yang mereka lalui. Jangan merasa aman dengan anggapan “kalo kejadian kecelakaan ama kendaraan yang lebih gede, pasti yang gedean yang disalahin”. Wah, kalo sudah begini, “cape deeeeeh.....”

Maylina, 23 Thn
Junior Consultant
Jakarta

2 comments:

Anonymous said...

siapapun yang menulis artikle ini please jangan memakai kacamata kuda yang hanya menyalahkan pengendara sepeda motor saja...

Masalahnya seperti ini, Sistem transportasi diJakarta sudah sedemikian ruwet yang akhirnya membuat kita para pemakai jalan berebut ruas jalan, nah akhirnya sebagai alternatif mereka beralih ke sepeda motor untuk menghindari kemacetan, jangan di lihat dari sisi ekonominya bung/sist. tapi lihat dari banyak faktor.

Sekarang Banyak komunitas motor yang sedang mengkampanyekan safety riding baik diJakarta maupun di kota - kota lainya. Mudah2an kampanye yang kami lakukan dapat membuahkan hasil yang baik demi keamanan dan kenyamanan kita bersama.

may said...

Hello Pak Fandi,

Sblmnya salam kenal. Makasih commentnya. Wah sy jd inget kalo sy punya blog ketika lihat di email ada notification coment dari anda. Udah lama juga ga nulis. Hehehe....:)

Saya ga marah kok, dibilang pake kacamata kuda (well. mungkin orang lain akan marah, tp sy berusaha open dan mengerti knp pak Fandi berkata demikian).

Pak Fandi mungkin salah terima ato mungkin bacanya ga lengkap, ato terburu2. Saya hanya bermaksud memaparkan fakta yg saya lihat di lapangan, BUKAN MENYALAHKAN PENGENDARA MOTOR. Karena memang di samping orang yg suka kebut2an, pasti masih buanyak sekali pengendara motor yg tertib, mgkn sprti Pak Fandi contohnya.

Dan sy sedikit mau koreksi tulisan pak Fandi:
"jangan di lihat dari sisi ekonominya bung/sist. tapi lihat dari banyak faktor."

Kalo pak Fandi baca lagi tulisan iseng saya itu dengan sedikit lebih seksama, tepatnya paragraf ke tiga:
"Selain alasan ekonomi, banyak orang lebih memilih berkendara motor daripada kendaraan lainnya dengan alasan efektifitas waktu. Dengan menyalip dan menyelip di antara kendaraan lain itu lah mereka bisa lebih cepat sampai di tempat tujuan. Apalagi bagi penduduk yang bekerja di Jakarta, namun bertemat tinggal di daerah pinggiran Jakarta atau seputar Bodetabek, pada jam-jam sibuk bermotor akan lebih cepat daripada naik kendaraan umum atau mobil."

Jelas ada kata2 selain alasan ekonomi toh.

Sy paham banget kondisi jalan di Jakarta, dimana kalo siang penduduknya bisa 15 jutaan, sedangkan kalo malem sktr 10 jutaan, krn ada eksodus dr BODETABEK, termasuk saya ketika masih tinggal di rumah ortu di bekasi. Makanya bisa dibayangkan semrawutnya kalo pas jam bernagkat dna pulang kantor.

Sy mohon maaf kalo tulisan ini menyinggung pak Fandi sbg pengendara motor. Tp itu kan sekedar cerita ttg orang2 yg sudah menyebabkan kerugian bwt orang lain pak. Jika pak Fandi merasa tidak sebagai pelaku dari cerita2 saya di atas, ya jangan marah ya pak.

Kerabat saya, termasuk Ibu saya juga pengendara motor kok. So i definitely don't blame on motor bikers, sir. Hope u understand.

Saya 1000 persen mendukung safety riding campaigne-nya pak Fandi. Semoga semua pengendara motor semuanya pada safety2 aja dueh.;)

Salam,

/may



Ps.
Saya akan lebih menghargai jika sebelum nulis coment Pak Fandi menyapa penulisnya dgn baik2 dulu, sekedar say hi ato introduction dulu. Gak langsung nyelonong blablabla gitu, pak. Kan di akhir tulisan saya kasih nama saya. Kecuali kita sudah saling kenal.

Dan di akhir tulisan juga kalo bisa kasih nama, jd sy ga bertanya2 lg ini siapa.

Well, itu cuma sdkt dari yg saya pelajari secara otodidak ttg etika dalam tulis menulis. Semoga berkenan.